Peter Pan Part 1

Tittle : Peter pan
Main Cast : Luhan as PeterPan, Choi Wendi (OC), Kris as Captain Hook
Other Cast : All member EXO
Genre : Romance, Comedy, Thiller, Angst, Friendship
Rating : PG-17
Length : Multi Chapter
Disclaimer : Fanfic ini asli milik author. Fanfic ini banyak mirip dengan cerita asli Peter Pan, Narnia (maybe), dan Resident Evil karena author ingin melibatkan zombie di sini. Sebelumnya author mengganti nama usernya karena author ingin teman-teman dan saudara author tahu kalu author ini suka membuat fanfic. mohon kerjasamanya^. Please, don’t copy paste without permission!

Happy reading

eomma! Wendi tidak mau menikah dengan anak dari mr. Park! Pokoknya Wendi tidak mau!” tolak seorang gadis mentah-mentah .

“tapi Wendi, appa-mu sudah membuat perjanjian dengan keluarga Park, sayang. Uri appa sudah janji akan menikahkan Wendi dengan anak dari keluarga Park. Eomma mohon, turuti permintaan uri appa sekali ini saja.” Pinta ibu si gadis itu.

eomma! Apa eomma tidak punya hati? Wendi selalu menuruti permintaan eomma dan appa. Tapi kalian tidak pernah menuruti permintaan Wendi selama ini! Apa itu adil? Eomma dan appa jahat dengan Wendi!”

“Wendi sayang, eomma mohon, turuti permintaan uri appa. Jangan buat appa kecewa dengan Wendi.” Sang ibu mencoba merayu putrinya sekali lagi walaupun ia tahu ini akan membuahkan hasil sia-sia.

“kecewa? Justru kalian yang membuat Wendi kecewa dengan kalian! Kalian selalu menuruti permintaan dari Wenda. Wendi iri dengan Wenda! Apa kalian tidak mikir kalau Wendi juga ingin seperti Wenda! “

eomma mengerti sayang, amat mengerti. Eomma mohon untuk terakhir kalinya, Wendi mau menerima tawaran ini. Eomma janji, tidak akan memaksa Wendi lagi”

Bukankah di perjanjian itu, appa akan menikahkan salah satu putrinya kepada keluarga Park. Kenapa kalian lebih memilih Wendi ketimbang Wenda? Wenda lebih cantik dari Wendi, Wenda juga lebih baik ketimbang Wendi. Alangkah baiknya jika eomma menikahkan Wenda dengan anak keluarga Park?

Wendi tahu sendiri bukan kalau appa sudah memilih Wendi untuk menjadi calon menantu keluarga Park, itu sudah permanen, tidak bias dirubah kembali.”

oh gosh! Kenapa harus Wendi, Wendi, dan selalu Wendi?! Pokoknya Wendi menolak pernikahan ini, Sampai kapanpun Wendi tidak setuju dengan pernikahan konyol ini!” pertahanan Wendi roboh, ia meninggalkan ibunya sendirian di ruang keluarga.

Cepat-cepat ia masuk ke kamar dan mengunci pintu. Ia sudah tidak kuat lagi jika hidupnya selalu di penuhi dengan keterpaksaan. Ia menangis sejadi-jadinya dan terus merutuki kehidupannya.

tolong, aku! Tolong bawakan aku dari sini! Sungguh aku tidak sanggup lagi, aku bosan dengan hidupku seperti ini! Aku ingin bebas dari kehidupanku yang sangat menyebalkan ini. Siapa saja tolong aku!” teriaknya memohon sambil menutup kupingnya rapat-rapat.

Satu per satu air matanya turun membasahi pipi chubbynya itu. “eomma jahat! Eomma lebih sayang Wenda ketimbang Wendi! Semuanya tidak adil! Wendi benci kalian semua, Wendi benci!” teriaknya sambil memeluk boneka beruang besar peninggalan mantan kekasihnya. Mantan kekasih telah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu.

Mengingat itu semua membuat hati Wendi terasa sakit kembali. Masalah ini mampu membuat Wendi frustasi. Sekarang mendengar pernikahannya dengan namja lain yang sudah dijodohkan oleh orang tuanya.

Wendi beranjak dari tempatnya, berjalan menuju meja belajarnya. Terdapat kotak kecil pemberian sang mantan sebelum meninggal dunia. Ia penasaran dengan isi kotak tersebut. Sebelumnya ia belum pernah melihat isi kotak tersebut. Pesan mantan kekasihnya, boleh dibuka ketika bulan purnama di bulan Desember, karena itu akan membawa keajaiban tersendiri. Ia melihat bulan dari jendela, setelah itu melihat kalender yang berada di sampingnya.

Sekarang tanggal 11 Desember 2009, tepat bulan purnama menampakkan bentuknya. Dengan hati-hati ia membuka kotak tersebut. Alangkah terkejutnya ia melihat seorang namja mungil tengah tertidur di dalam kotak tersebut. Sontak ia melempar kotak itu sembarang tempat. Alhasil, namja tersebut terbangun dan jatuh tersungkur di lantai.

yak! Apa kau tidak punya sopan santun eoh? Arg!” teriak namja itu kesakitan. Perlahan tubuh mungilnya membesar layaknya manusia pada umumnya. Tinggi besar.

siapa suruh kau berada di dalam kotak itu? Apa kau jin penjaga kotak itu?” Tanya Wendi ketus.

dasar manusia, dari dulu tidak pernah berubah. Sama-sama egoisnya. Kuberitahu, aku bukan jin. Aku manusia!” Gerutu namja itu sambil menepuk-nepuk kaki dan pantatnya.

mwo? Yak! Tidak semua manusia egois seperti itu! Ah! Sepertinya hari ini aku kenal sial terus. Neo! Bisakah keluar dari kamarku? Kau sudah membuatku tambah emosi. Kalau manusia, kenapa kau ada di dalam kotak itu? Bukankah yang bisa seperti itu sebangsa jin dan kau juga bisa membesarkan badanmu sampai sebesar itu. Apa itu manusia?” Ujar Wendi disertai pengusiran kepada namja itu.

shireo! Kalau aku diusir, nanti aku tidur dimana? Di kotak itu lagi? Ogah amat! Tidur di kotak itu membuat badanku resuk semua. Bahkan hampir membuatku mati kedinginan. Ah, apa kau tidak kasihan padaku? Aku sudah terkurung di dalam kotak itu terlalu lama. Ayolah, kasihilah aku.” Ucap namja itu memelas. Tidak lupa ia juga memperlihatkan aegyo-nya.

aku tidak kasihan padamu. Aku kenal kau tidak, minta dikasihani pula. Sekali tidak tetap tidak. Cepat keluar sebelum aku berteriak.” Ancam Wendi.

yak, yak, yak! Jangan! Aku mohon satu kali ini saja. Kalau kau memperbolehkanku, akan aku ajak ke Neverland.”

Neverland? Neverland itu apa? Tempatnya dimana? Apakah sama seperti di sini? Apa tempat itu berada di Amerika sana? Kau jangan membohongiku!”

ani, aku tidak membohongimu. Besuk kita buktikan.”

kenapa harus besuk? Sekarang saja. Biar aku percaya denganmu.”

tidak bisa. Ini sudah lewat waktunya. Berhubung ini masih awal bulan purnama, kita bisa singgah di sana.”

memang kalau kita ke sana akhir bulan purnama, kita masih bisa singgah di sana?” Tanya Wendi semakin penasaran dengan Neverland. Tampak asing dengan tempat tersebut.

kita masih bisa ke sana tapi resikonya kau tidak bisa kembali ke sini lagi”

mwo? Ah, sepertinya sulit untuk pergi ke sana. Besuk kita berangkat pukul berapa? Jangan terlalu pagi. Aku masih sekolah. Jangan terlalu siang, aku ada les bimbingan. Jangan terlalu sore, aku membantu eomma berjualan.”

ternyata kau yeoja super sibuk eoh. Kita berangkat malam gimana? Tepat pukul 12 malam. Eotteh?”

apa tidak terlalu malam? Nanti eomma mencariku gimana? Ya walaupun eomma-ku tidak terlalu protect sama aku. Tapi setiap malam dia selalu ke kamarku. Aku takut.”

tenang. Aku bisa mengelabuhi eomma-mu. Pokoknya kita harus berangkat! Arrachi?”

oke deh. Terima kasih tawarannya. Hmm, kalau boleh tahu, namamu siapa?”

Xi Luhan Peterpan. Kau bisa panggil aku Luhan. Kalau namamu nona manis, siapa?”

aku, aku Wendi, Choi Wendi. Bangapseumnida.

ne. Sekarang waktunya tidur. Seorang yeoja tidak baik tidur terlalu larut”

iya, habis ini aku akan tidur. Neo! tidur dibawah!” Wendi melempar bantal dan selimut tepat di wajah Luhan.

yak! Tidak bisakah kau bertingkah lebih manis, nona? Kau benar-benar keterlaluan dengan namja di depanmu.” Geram Luhan.

yang minta tidur di sini siapa? Kau bukan? Aku sudah berbaik padamu untuk tidur di tempatku. Masih kurang apa lagi eoh? Sekali lagi kau berteriak, aku tidak senggan-senggan menyeretmu ke luar rumah. Kau mau tidur di luar sedangkan di luar sana sedang terjadi hujan salju?” Ancam Wendi sambil menyeringai senyumannya.

tidak perlu, terima kasih. Di sini cukup hangat buatku.” Ucap Luhan ketakutan ketika ada aura aneh di sekelilingnya.

good boy! Jaljayo, semoga tidurmu nyenyak.Tidak butuh memerlukan waktu banyak Wendi tertidur dengan pulas.

Luhan melihat raut muka Wendi sedang tertidur. Ketika ia tidur, ia terlihat begitu tenang dan damai. Berbeda sekali seperti beberapa menit yang lalu. Luhan mengelus-elus rambut Wendi yang terurai begitu saja. “yeoppoda! Sesuai ramalan, kau benar-benar cantik, Wendi-sshi. Apakah kau yang ada di ramalan itu?” Luhan masih tetap mengelus-elus rambut Wendi.

Tidak lama kemudian, datanglah seorang peri mungil menghampiri Luhan. Tampaknya mereka berbincang-bincang begitu serius. Usai berbincang-bincang, Luhan mengecup kening Wendi sekilas. “Wendi-sshi, aku pamit pulang sebentar. Besuk aku janji akan membawamu ke kampungku, Neverland. Tidurlah yang nyenyak. Semoga harimu menyenangkan.” Katanya sebelum ia pergi. Luhan dan peri itu terbang dan pergi meninggalkan Wendi yang masih terjaga di bawah benderangnya cahaya bulan di bulan Desember ini.

ϰ ϰ ϰ Peter Pan ϰ ϰ ϰ

Sang mentari telah menampakkan sinarnya. Musim dingin di bulan Desember tidak membuat semua orang bermalas-masalan di dalam rumah. Mereka tetap bersemangat memulai harinya walaupun udara dingin menusuk tulangnya. Tidak terkecuali Wendi. Kini ia tengah bersiap-siap untuk berangkat sekolah.

eomma! Wendi berangkat dulu eoh!” teriaknya sambil memasang sepatu di depan pintu kamarnya.

tunggu sebentar! Belikan eomma garam di depan rumah. Persediaan garam di rumah habis.”

eomma! Wendi terburu-buru sekarang. Eomma suruh Wenda buat beli garamnya.”

Wenda sudah berangkat dari tadi, sayang. Cepat belikan, masakanku keburu matang.” Dengan perasaan dongkol, Wendi terpaksa menuruti permintaan eomma-nya. Dengan langkah terburu-buru, ia bergegas membeli garam depan rumah. Setelah membelikan garam, cepat-cepat ia berangkat sekolah.

Jam menunjukkan pukul 06.30 KST, pintu gerbang sebentar lagi segera ditutup. Wendi menambah kecepatan berlarinya agar hari ini ia tidak terlambat masuk sekolah. Ia tidak ingin image sebagai murid teladan nomor dua setelah Wenda rusak seketika dikarenakan telat! Jarak antara rumah dan sekolah lumayan jauh bila jalan kaki. Sebenarnya di daerah tempat ia tinggal ada alat transportasi untuk sampai di sekolah, namun Wendi ingin sedikit berhemat. Sepuluh meter lagi, ia telah sampai di sekolah, tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang mendorongnya hingga ia jatuh tersungkur di jalanan.

yak! Neo micheoso! Kau tidak lihat apa ada orang sedang terburu-buru?” Marahnya kepada orang yang mendorongnya tadi.

oh! Mian! Aku tidak melihat ada orang yang sedang terburu-buru. Maaf aku tidak bisa menolongmu, aku juga sedang terburu-buru. Annyeong!” orang yang menabraknya meninggalkan Wendi sendirian.

yak! Shin Hyun Pil! Dasar yeoja tengik! Kau ingin bermain-main denganku eoh? Arg!” Wendi tidak kuat untuk berdiri. Kaki kanannya terkilir. Lengkaplah sudah penderitaan Wendi hari ini. Sebentar lagi pintu gerbang akan ditutup. Semua murid SMA KyungDong berlari dan menghiraukan Wendi.

Dengan susah payah Wendi berjalan terseok-seok. Sebentar lagi ia hampir tiba di pintu gerbang, namun kakinya tidak mengizinkan untuk masuk, ia kembali oleng dan terjatuh. Mencoba bangkit kembali ia sudah tidak mampu lagi berdiri. Sebuah tangan kekar terulur di depan Wendi. Wendi menatap pemilik uluran tangan tersebut. Betapa terkejutnya Wendi ketika ia mengetahuinya.

gwenchana?”

Wendi tidak mampu menjawab pertanyaan dari Chanyeol, sunbae Wendi. Diam-diam dia menyukai namja di depannya dua tahun terakhir ini, walaupun dia sudah ada yang memiliki satu tahun yang lalu tapi Wendi masih menyimpan rasa pada sunbae-nya itu.

pasti kau tidak bisa berjalan. Ayo naik ke punggungku.” Tawar Chanyeol sambil jongkok di depan Wendi.

ah, tidak perlu, sunbae. Lagian aku masih bisa jalan.” Tolak Wendi.

jinjjayo? I think it’s so bad. Cepat naik, keburu kita telat.”

Dengan keadaan terpaksa, Wendi menuruti penawaran dari Chanyeol. Ketika memasuki sekolah, mereka menjadi pusat perhatian murid-murid SMA KyungDong dalam sekejap. Bagaimana tidak, Chanyeol merupakan murid terkenal ramah dan berbakat itu menggendong Wendi yang merupakan murid yang anti yang namanya namja. Gossip pun mulai menyebar. Mereka berperasangka bahwa Wendi berpacaran dengan Chanyeol, ada pula Wendi sebenarnya seorang yeoja tidak punya malu. Namun Wendi cuek dengan berita-berita miring itu. Tidak ada yang tahu kalau Wendi tengah menyukai orang yang menggendongnya bahkan saudaranya sendiri juga tidak tahu tentang perihal ini.

Di UKS, Wendi diobati oleh Chanyeol. Perasaan senang, malu, gugup bercampur menjadi satu. Diam-diam ia mengamati gerak-gerik Chanyeol ketika mengobati dirinya.

jangan melihatku seperti itu. Kau tahu kalau aku ini benar-benar tampan. Apa kau terpesona kepadaku, nona Choi?” goda Chanyeol tetap mengobati luka Wendi.

ye?! Ah, aniyo! Siapa juga yang melihat sunbae. Orang culun gitu dibilang tampan. Ck, ternyata sunbae terlalu narsis.” Ejek Wendi sambil melipat kedua tangannya.

kau pasti bohong. Murid-murid di sini banyak yang bilang kalau aku ini tampan. Bahkan ketampananku melebihi Lee MinHo. Sebentar lagi aku akan menjadi artis dadakan karena ketampananku. Hahaha, bercanda.” Candanya.

tidak lucu.” Wendi tetap memasang wajah cueknya walaupun di dalam hati ia ingin tersenyum dengan candaan Chanyeol tadi.

lukamu tidak terlalu parah. Tiga sampai empat hari lagi kau bisa berjalan normal. Sebaiknya kau istirahat dulu. Lagi pula jam pertama sudah dimulai. Akan kubuatkan surat sakit.”

tidak perlu, sunbae. Nan gwenchana. Aku sudah sehat. Lihat! Aku tidak pucat, kan?”

Chanyeol melihat sekilas, “hmmm, kau memang terlihat tidak pucat tapi lututmu masih sakit. Jangan banyak alasan, pokoknya kau istirahat. Nanti jam istirahat aku ke sini.”

tidak perlu repot-repot, sunbae. Sunbae pasti repot.”

ani. Aku tidak repot kok. Aku ke sini lagi jam istirahat. Aku harap kau tidak kabur, nona Choi. Aku permisi dulu.” Chanyeol membungkukkan badannya dan meninggalkan Wendi sendirian di UKS. Ia menarik selimut hingga kepala dan membayangkan kejadian yang barusan dialaminya. Apakah ia tengah bermimpi? Apakah tadi benar-benar nyata. Kurang lebih seperti itu pertanyaan di dalam pikiran Wendi.

Ia mencoba membuktikan dengan mencubit pipinya sendiri. Terasa sakit dan terbukti itu benar-benar nyata. Tidak henti-hentinya ia tersenyum dan membayang-bayangkan ketika ia diobati. Sungguh romantis bukan?

Terdengar derap langkah menghampiri dirinya. Disibak selimut yang menutupi seluruh tubunha dan melihat orang yang datang ke UKS. Seorang yeoja mungil seumurannya berdiri di depan pintu. Ia menghampiri Wendi dan duduk disamping Wendi.

neo gwenchana?”

nan gwenchana. Neo, mau apa kemari?” Jawab Wendi judes.

ani, tadi aku lihat Chanyeol sunbae barusan ke sini. Cuman mau nge-cek saja. Tidak boleh?”

boleh-boleh saja. Tidak ada yang melarang. Selain itu, kau ke sini pasti punya maksud tertentu. Itu benar, kan, Wenda-sshi?” Ujar Wendi dengan tatapan senduktif.

majayo! Kau memang memiliki jiwa detektif seperti appa. Tidak heran kau bisa menebak teka-teki dariku. Oke, to the point saja. Aku ingin kau jauh-jauh dari Chanyeol sunbae. Chanyeol sunbae itu milikku. Sekali lagi kau mendekati Chanyeol sunbae, aku yakin kau pasti tidak akan selamat!” ancam Wenda notabene saudara kembar Wendi.

cih! Aku sudah menduganya dari dulu. Aku tidak pernah mendekati Chanyeol sunbae. Dianya saja yang mendekatiku. Aku benar-benar tidak suka dengan Chanyeol sunbae. Kau dengar itu?”

ck! Dasar wanita murahan. Masih sempatnya berbohong. Kau itu memang wanita penggoda. Sudah berapa namja yang kau dekati? Sekarang sasaranmu Chanyeol sunbae? Pinter ya kau ini, pinter memikat hati para namja. Kau tidak pantas hidup di sini, wanita penghibur”

PLAK!

Sebuah tamparan melesat di pipi Wenda saking kesalnya Wendi terhadap sikap Wenda yang sudah keterlaluan itu.

terserah kau bilang apa, aku tidak perduli. Ini hidupku, bukan hidupmu. Dan satu lagi, kau tidak berhak mengecap seseorang dengan julukan seperti itu. Aku tidak seperti yang kalian pikirkan selama ini. Aku kecewa padamu, Wenda-sshi. Kka!” Usir Wendi sambil menunjukkan ke arah pintu. Setelah Wenda keluar, Wendi memeluk lututnya dan mulai menangis.

Tidak ada yang tahu, di balik sosoknya yang menyeramkan namun hatinya hancur berkeping-keping. Perasaannya hancur, seakan-akan ia tidak punya semangat hidup lagi. Diambilnya sebuah pisau yang tergeletak di atas meja. Dengan perasaan ragu-ragu ia ingin menyobek pembuluh nadi tangannya.

Ketika pisau yang dipegangnya hampir mengenai kulitnya, tiba-tiba pisau itu lepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai.

Neo paboya? Ingin mengakhiri hidupmu seperti itu? Cih, sungguh menjijikkan.”

yak! Apa urusanmu eoh? Aku sudah bilang bukan, jangan atur hidupku lagi, arr…” Perkataan Wendi terhenti ketika melihat lawan bicaranya. Bukan Wenda yang ia bentak tapi Peterpan. “kenapa kau ada di sini? Kau nyasar? Apa kau seorang penguntit? Yak! Jadi selama ini kau selalu memantauhiku eoh? Dasar manusia aneh.” Wenda memukul tubuh Luhan dengan bantal dengan kesal.

oi, oi, oi! Aku bukan penguntit, aku hanya mengikutimu saja. Aku bosan berada di kamarmu. Aku tidak bisa bermain apa-apa di kamarmu. Hanya ada beruang dan serigala, tapi mereka semua tidak bergerak. Apakah mereka mati? Kasihannya mereka. Ternyata kau ini ratu tega, Wendi-sshi.” Ujar Luhan sambil menepis pukulan dari Wendi.

itu boneka pabo! Mereka semua mati. Lalu, boneka-bonekaku kau apakan, huh?”

iya aku kubur. Lagi pula mereka sudah mati. Bukankah hewan atau orang yang sudah mati itu harusnya dikubur, eoh?” Jawab Luhan polos.

mwo? Yak! Itu barusan aku cuci, kenapa kau kubur, eoh? Aku tidak mau tahu, pulang sekolah nanti kau harus mencuci semua boneka-boneka yang kau kubur itu.”

mana bisa! Aku capek kalau harus menyuci semua barang-barangmu itu. Mana berat lagi.” Elaknya.

itu enteng, payah. Ah, sepertinya kau itu anak mama. Sana, balik ke mamamu, berhentilah merengek. Aku benci orang seperti itu.”

huh? Apa yang kau bilang? Kau benci orang yang manja? Cih, biasanya yeoja yang banyak merengeknya daripada namja. Kau sedang waras ‘kan?” Luhan mencoba menempelkan punggung tangannya ke dahi Wendi.

jangan menyentuhku, bocah manja. Kau tidak percaya padaku, terserah! Aku tidak perduli! Aku benci kamu!” Wendi melompat dari kasurnya dan berlari menjauh dari Luhan.

yak! Wendi-sshi! Jangan pergi! Aish! Mianhae, Wendi-sshi! Wendi-sshi!” Luhan mengejar-kejar Wendi sambil berteriak minta maaf berulang kali. Wendi menutup telinganya rapat-rapat, mencoba menghiraukan panggilan dari Luhan. “Wendi-sshi! Kau mendengarkanku? Wendi-sshi! Jangan berpura-pura kau tidak mendengarkanku! Mianhae! Pulang sekolah akan aku cucikan boneka yang aku kubur tadi. Sekarang pun aku sanggup asal kau mau memaafkanku, Wendi-sshi! Wendi-sshi, mianhae.” Kurang lebih seperti itu kata-kata yang dilontarkan Luhan saat mengejar Wendi.

geotjimal! Kau pembohong! Aku tidak percaya padamu. Pokoknya aku tidak percaya padamu, Luhan-sshi!” namun sayang, orang yang ia ajak bicara tidak berada di tempat. Tampak siswa-siswi yang berpapasan dengannya merasa aneh dan bingung dengan kelakuan Wendi. Mereka berperasangka bahwa Wendi sudah gila. Bagaimana tidak gila?! Orang yang diajak Wenda bicara tidak ada. Merasa diamati sejak dari tadi, perlahan Wendi menyingkir dari tempat tadi dan berlari dengan kencangnya menuju ke kelas.

hei! Neo gwenchana? Kau seperti habis dikejar sama setan.” Tanya teman sebangkunya, Shin Ji Rin.

ah? Naega? Ani, aku hanya ingin olahraga kecil saja. Tidak boleh?”

boleh-boleh saja, toh tidak ada yang melarang. Besuk kita jadi ke pantai tidak? Anak-anak banyak yang ikut, loh! Termasuk Chanyeol sunbae.”

mwo? Chanyeol sunbae juga? Kenapa dia juga ikut?” Tanya Wendi penasaran.

mollayo? Tiba-tiba dia pingin ikut gitu saja. Gimana? Bisa tidak?”

hmmm, kalau itu, akan kupikir lagi. Kau sendiri tahu ‘kan kalau eomma-ku terlanjur cerewet ketika aku ikut acara seperti? Mengerikan bak nenek sihir di negeri dongeng.”

hahaha, benar juga ucapanmu itu. Aku rasa kau terkekang dengan keadaan seperti itu. Aku turut prihatin padamu.”

apa-apaan sih. Kau kira ini acara bela sungkawa? Aish, sepertinya, tingkat ketidakewarasanmu menjadi-jadi. Apa sebaiknya aku pindah saja agar aku tidak ketular sifat ketidakwarasanmu itu?”

yak! Kau ingin mati eoh, Choi Wendi!”

hahaha. Bercanda. Jangan ngambek, ya? Kalau ngambek, Choi Minho aku rebut loh!” goda Wendi sekali lagi.

kau memang benar-benar ingin mati eoh? Rasakan jurus mautku! Hiyaaa!” Ji Rin memukul Wendi memakai buku tebal tanpa kenal ampun.

yak! Hentikan! Appo! Ji Rin-ah, nan neomu appoyo. Please, stop. Arg!” Ucap Wendi kesakitan sambil memohon kepada sahabatnya itu.

mianhae, aku janji tidak akan menggodamu lagi dengan embel-embel Choi Minho lagi. Arg! Hentikan!” lanjutnya.

oke, aku memaafkanmu tapi aku harus memukulmu terlebih dahulu sampai kau amnesia. Arachi?” ujar Ji Rin dengan penuh semangat memukul Wendi.

yak! Setega itukah kau denganku? Hanya masalah sepele seperti itu kau melakukan hal seperti itu? Cih, sekarang rasakan akibatnya, nona Shin!” Wendi pun membalas semua perlakuan dari Ji Rin dari tadi. Mereka saling memukul satu sama lain. Tanpa mereaka sangka seorang guru telah tiba di kelas.

Shin Ji Rin! Choi Wendi! Bisa diam tidak? Kalau kalian tidak bisa diam, kalian bisa keluar dari pelajaran saya!” ucap Lee seongsaengnim dengan garangnya sambil meletakkan buku yang dibawaannya.

jeosohamnida, seongsaengnim.” Wendi dan Ji Rin meminta maaf dan menunjukkan kepala.

sudah, sudah. Kalian boleh duduk. Kita lanjutkan pelajarannya.” Tidak mau berbasa-basi Lee seongsangnim melanjutkan pelajaran yang sempat tertunda karena keributan yang dibuat oleh Ji Rin dan Wendi. Wendi merutuki diri sendirinya dengan sikapnya yang barusan.

neo gwenchana? Udah jangan dimasukkan dalam hati. Itu hanya peringatan kecil biasa.” Ucap Ji Rin enteng. Si lawan bicara hanya menghela napas dan memperhatikan materi yang diajarkan pada Lee seongsaengnim. Sekilas, ia memikirkan perjalannya nanti ke Neverland. Apakah nanti Luhan benar-benar akan menepati janjinya atau hanya modus belaka. Jika ia benar-benar mengajak dirinya ke Neverland, dia harus membawa barang apa saja yang dibutuhkan untuk kesana?

Choi Wendi! Coba kau ke depan dan jawab pertanyaan-pertanyaan ini.” Wendi sedikit kaget dan langsung maju dan memikirkannya terlebih dahulu. Sejak dari tadi terus memikirkan perjalannya nanti bersama Luhan, si manusia aneh tanpa memperhatikan penjelasan dari Lee seongsaengnim.

sekarang kau mati, Choi Wendi” sekali lagi Wendi merutuki dirinya sendiri.

ϰ ϰ ϰ Peter Pan ϰ ϰ ϰ

aku pulang!” teriak Wendi sambil meletakkan sepatunya.

Kau sudah pulang? Kenapa sore sekali pulangnya? Makan sana! Keburu dingin.” Ucap eomma Wendi lembut. “setelah makan, nanti tolong eomma jaga took, eoh? Eomma mau keluar bersama Wenda.” Lanjutnya sambil memoleskan lipstick pada bibirnya.

nde!” hanya itu balasan dari Wendi. Bergegas Wendi menaiki anak tanda dan masuk ke kamarnya. Dihempaskan tubuh mungilnya di kasur empuknya. Jujur Wendi sangat merasa iri dengan saudara kandungnya, Wenda. Walaupun eomma-nya sering memberi perhatian kecil kepadanya tapi ia merasa eomma-nya lebih perhatian dengan Wenda ketimbang dirinya. Bukannya Wenda mengidap penyakit mematikan yang bisa menyerang kapan saja dan dimana saja, namun rasa manjanya yang berlebihan itulah membuat sang ibu harus memiliki rasa perhatian yang lebih kepada Wenda.

Mengingat perlakuan ibunya akhir-akhir ini sukses membuat kepala Wendi cenat-cenut. Sang ibu telah membuat jadwal kencan buta dengan anak dari keluarga Lee. Sungguh, Wendi sudah muak dengan kehidupannya saat ini. Ia membolak-balikkan tubuhnya untuk menghilangkan semua prasangka buruknya itu.

kau sudah siap-siap, eoh?” Tanya Luhan tepat di depan wajah Wendi. Wendi membuka matanya dan terkejut melihat kehadiran Luhan. Tanpa basa-basi, ia memukul wajah Luhan menggunakan bantalya.

yak! Kau dari mana saja, eoh? Kenapa datangnya tiba-tiba seperti ini, eoh? Kau benar-benar mengejutkanku, Luhan-sshi! Ish! Bisa-bisa gila! Hidup dengan orang-orang aneh seperti kalian.”

mwo? Yak! Kau mengejekku dengan manusia aneh?” Tanya Luhan tidak terima.

tidak, aku tadi bilang apa, eoh? Orang-orang disekitarku. Berarti orang-orang aneh itu bukan hanya kau saja, Luhan-sshi. Berbanggalah, masih ada yang lebih aneh lagi daripada kau, walaupun kau itu sudah kelewatan anehnya.” Jawab Wendi enteng sambil membaca majalah kesayangannya.

itu sama saja, pabo! Sudahlah, I don’t care! Kau beneran ingin membuktikan perkataanku kemarin bukan? Bersiap-siaplah, enam jam lagi kita berangkat.” Ujar Luhan sambil tiduran di samping Wendi.

iya, aku juga sudah tahu, pabo. Kenapa kau tidur disampingku? Pergi sana! HUSH, HUSH! Kau merusak mood-ku.” Wendi kembali memukul Luhan dengan majalahnya.

yak! Kau ingin aku mendadak amnesia, eoh? Hentikan, Wendi-sshi. Kau benar-benar wanita berdarah dingin!” Luhan terus merancau tidak karuan sambil menepis pukulan dari Wendi.

Wendi-ya! Eomma berangkat dulu! Cepat turun dan jaga tokonya!” teriak eommanya dari lantai bawah. Perasaa Wendi kembali dongkol.

Wendi-sshi? Neo gwenchana?” Tanya Luhan ketika melihat perubahan raut muka dari Wendi. Wendi langsung turun dari lantai atas dan bergegas menju tokonya yang tidak jauh dari tempatnya. “Wendi-sshi? Kau mendengarkanku, bukan?” Berulang kali Luhan mengajak Wendi berbicara. Namun nihil, tidak ada jawaban dari Wendi.

Setibanya di toko, Wendi mendudukkan dirinya di meja samping meja kasir lalu membuka buku pelajarannya. “Wendi-sshi, kau kenapa seperti itu? Kau marah padaku? Mianhae, aku janji tidak akan….”

bisakah kau membawaku saat ini juga? Aku lelah berada di dunia ini. Aku ingin cepat ke sana!” Ucap Wendi sambil memandang Luhan yang penuh dengan liangan air mata.

mwo?”

To Be Continued

Iklan

About Me and MinJun Oppa

“Semua berawal dari pencarikan pasangan untuk adiknya, hingga akhirnya kita menjalin kasih dalam sebuah kelompok”

“aku need couple! Siapa yang pingin jadi couple-ku?” tulisku dalam dinding grup RolePlayer (RP). Di sini aku memperani aktor cilik Korea Selatan yang sedang naik daun, Kim Yoo Jung. Di usia 14 tahun ia telah mampu mencari uang untuk keluarganya. Sudah orangnya cantik, pintar berakting, banyak penggemarnya. Siapa yang tak ingin berkencan dengan bocah ini.

Tak lama kemudian kirimanku dibales oleh teman segrupku, “aku juga butuh couple. Bagi namja NC (no couple) please chat me!” kurang lebih begitu komentar-komentar dikirimanku. Ternyata tidak hanya aku yang kesulitan mencari couple. Ada Vriska, Nam Joo yang juga mencari pasangan untuk bermain dan bersenang-senang.

Sekiranya di grup sudah pada ramai, aku langsung memundurkan diri dari grup. Kulihat broadcast yang telah menumpuk dipemberitahuan. Ada yang lagi promosi jualannya, ada yang promosi pin, ada juga yang promosi dirinya untuk dijadikan pasangannya. Mataku menatap salah satu broadcast yang terpapang jelas di layar hp. [DRP] Park Tae Jun │ Gwak Min Jun “siapa yang mau jadi couple Song Ah Ri?”

Melihat promosi ini kukomentari broadcastnya “itu namja or yeoja?” aku berharap itu namja karena Dpnya itu cowok. Setelah kutunggu sekian lama hingga akhirnya komentarku dibalas.

“dia yeoja

hancur hatiku melihat balasannya. Perkiraanku meleset. aku balas kembali “aku juga butuh couple”  setelah itu dia tidak membalas lagi, kuputuskan tuk belajar. Tepat pukul 4 sore, ia mengirim broadcast lagi.

“kau butuh couple? Aku boleh lihat Rpmu?”

Waduh! Mampus! Aku tak punya gambar Kim Yoo Jung, mau nyari ke internet tidak bisa karena hpku bisa buat internetan kalau terpasang wi-fi. Kukorek-korek temanku yang DP-nya cewek. Akhirnya ketemu Taeyeon SNSD yang menurutku sedikit yang memakai RP ini, kuputuskan kukirim foto Taeyeon. Setelah mengirim, aku langsung membuka twitterku. Kucari di kotak pencarian. Didalam hati aku selalu berdoa semoga aku ketemu foto yang aku jadikan RP. Sekitar semenit aku menemukan fotonya. Aku ambil yang menurutku itu yang menarik. Selesai download, aku buka lagi chat di BBM. Ia membalas lagi.

“kamu RP-in Taeyeon?”

“iya, aku kirim gambar lagi, ya? Aku pake 2 RP” bohongku. Cepat-cepat kukirim foto yang barusan aku unduh dari twitter. Setelah kukirim foto ia membalas lagi.

“di RP-mu yang butuh couple yang mana?”

“yang Kim Yoo Jung

“aku Gwak Min Jun yang butuh couple. Mau ‘kan jadi couple-ku?”

Aku merasa berbunga-bunga saat itu. Bagaikan menemukan mainan yang telah hilang, akhirnya aku dapat pasangan walaupun hanya sebatas permainan. Akupun menyetujuinya. Tepat tanggal 5 Desember 2013, Kim Yoo Jung resmi menjadi pasangan Gwak Min Jun.

Kami mempunyai nama panggilan setelah jadian. Dia memanggilku chagi  dan dia kupanggil oppa. Sebelumnya ia menyuruhku untuk mengganti statusku menjadi nama RPnya. Aku bingung, status yang mana? Akhirnya aku membalas kirimannya.

oppa juga belum mengganti statusnya.”

oppa udah ganti, liatin tuh” aku lihat ada yang  berubah. Aku baru tahu jika status itu yang menandakan jika kita sedang aktif atau tidak. Cepat-cepat aku merubah statusku dari kang krisna menjadi MinJun │ ❤ │ YooJung.

“ini, aku sudah ganti status” ia hanya membalas dengan senyuman saja. Setelah itu kami saling chatting-an hingga aku dimarahin sama imo-ku karena aku melupakan belajarku. Setelah kuperhatikan, aku menilai dia itu baik, easy going, mudah akrab, perhatian banget bahkan melebihi perhatian mantan pacarku 😥 .

Setiap pagi dia juga selalu nge-ping aku kalau tidak gitu aku yang nge-ping dia duluan. Hingga akhirnya ketika aku ingin nge-ping dia, nama Bbnya berubah menjadi [SRP] Ulzzang Song Ah Ri. Aku pikir mungkin yang menggunakan Bbnya itu adiknya, mana mungkin ia mempunyai 3 RP sekaligus, cewek pula! Kuputuskan menunggu ia nge-ping duluan.

Sekitar jam 7 malam ia nge-ping aku. “kau sedang belajar Chagi?” tanya-nya setelah ia nge-ping aku.

“iya oppa” jawabku singkat.

“oh! Lanjutkan dulu belajarnya. Oppa  juga mau belajar. Nanti kalu sudah selesai belajarnya ping oppa nde?

Pukul 9 malam aku selesai belajar, buru-buru aku ambil hapeku dan langsung nge-ping oppa­Minjun. Selang beberapa menit kemudian ia membalas ping-ku. Akhirnya kami chatting-kan kembali hingga pukul 10 malam sampai-sampai aku ketiduran.

Besuknya, aku ingin nge-ping lagi, dianya sudah ganti nama lagi. Mungkin jadwal hari ini yang bawa Bb-nya adiknya, kuputuskan menanti hingga ia menggunakan namanya kembali. Di statusnya ia aktif kembali pukul 5 sore, aku menggantikan DP asliku. Tak lama kemudian dia komentar.

“itu fotomu?”

“iya oppa

“pendek banget rambutnya” mampus! Aku sengaja memendekan rambutku karena efek putus dari mantanku. Mau kubalas gitu tapi kok tidak elit. Akhirnya kubalas.

“hahaha, iya. Katanya eomma aku lebih pantas pendek daripada panjang padahal aku suka rambut panjang.”

“bagus panjang” sepertinya ia menyukai yeoja berambut panjang.

“iya, memang bagusan yang panjang”

“punya fotonya?” waduh! Aku belum sempat beli memory card , memoriku yang lama udah lama rusak.

“punya, tapi di pc”

“yah”

mian

gwenchana, oppa belajar dulu, nde?”

“iya, nanti kalau udah selesai ping, ya?”

“kalau oppa ketiduran gimana?”

“tidak perlu nge-ping”

mianhae :*”

gwenchanayo oppa ({})”

Inilah akhir chatting-an kami waktu itu. Besuknya ia tidak lagi berkomunikasi denganku tapi ia aktif membuat personal message. Mulai tentang adiknya sampai pacar. Kalau boleh aku jujur, sebenarnya aku sudah terlanjur menyukainya. Waktu itu ia pernah bertanya kepadaku kenapa aku bisa menyukainya? Dengan polosnya aku menjawab karena aku suka sifatnya oppa. Tidak kurang dan tak lebih. Ia tetap tidak percaya, hingga akhirnya aku balas dengan bahasa inggris saking jengkelnya aku pada MinJun oppa.

Hingga saat ini, Minjun oppa belum juga menampakkan batang hidungnya. Oppa~ bogoshipoyo~ kapan oppa akan menghubungiku lagi? Oppa lagi sibuk? Kalau lagi tidak siuk, please, chat me again. Aku rindu dengan kenangan yang pernah kita buat dulu. Aku rindu kecupan dan pelukanmu walau hanya dalam bentuk ikon. Oppa, cepatlah kembali, YooJung dilanda rindu yang tak tertahankan. Saranghaeyo~, Gwak MinJun Oppa~ .

Sudah seminggu lamanya MinJun oppa tidak pernah chattingan denganku. Display name-nya nama adiknya, saat itu aku masih optimis kalau MinJun oppa pasti kembali. Tanggal 12 Desember 2013 pukul 17.25, aku dapat broadcast dari adik MinJun oppaUnni, nanti malam oppa-ku balik main RP” berbunga-bungalah hatiku melihat pesannya. Dengan segera kubalas broadcast-nya.

“iya, makasih infonya”

Kurang lebih seperti itu jawabanku. Tiga jam kemudian, akhirnya dia mengirimkanku broadcast. “halo! Park Tae Jun comeback! Ada yang merindukanku?”

oppa, bogoshipo~”

“nado bogoshipo chagiya ({})”

Akibat rasa senangku yang luar biasa aku tak bisa membalas chat-nya. Keesokan harinya, ia nge-ping diriku. Berulang kali ia nge-ping diriku, kuraih hpku yang jauh dari posisiku dengan mata tertutup. Aku masih mengantuk, aku ingin tidur lagi. Tapi saat melihat pesan darinya, spontan kubuka mata lebar-lebar. MinJun oppa memintaku putus?! Mimpi apa aku semalam? Pagi-pagi sudah mendapat berit buruk. Cepat-cepat kubalas chat-nya.

“kalau itu keputusanmu, aku terima.”

“kuharap kau jangan menangis. Maaf. Kita masih bisa berteman, kan?”

Aku tak mempu membalasnya lagi. Perasaanku kacau. Tanpa sadar aku menangis. Apa? Aku menangis? Hanya gegara MinJun oppa aku menangis? Begitu besarkah rasa sayangku pada MinJun oppa? Walau kutahu ini hanya sebuah permainan tapi aku kalut dalam permainan itu. Dengan kasar kuhapus air mataku ini sebelum imo-ku tahu. Bodohnya aku tak bertanya kepada MinJun oppa alasan ia memutuskanku.

Akhirnya aku kembali kehidupanku sebelumnya, tapi ada yang mengganjal dalam pikiranku. MinJun oppa dalam sekejap mampu membuatku jatuh cinta lagi, dalam sekejap pula ia memporak-porandakan perasaanku. Ini sama sakitnya ketika aku putus dengan mantan pacarku. MinJun oppa, sampai sekarang aku masih menunggumu kembali main RP lagi. Walaupun aku sudah milik Jimin tapi hatiku hanya tertuju padau, oppa. Please, comeback to me. I’m promise always smile and make you happy. Oppa, saranghae! Bogoshipo~

FF/A Good’Bye

Tittle : ‘A Goodbye’
Author : theangels
Cast : Cho Kyuhyun, Lee Hiu Hwi
Genre : Sad, Angst, Upset (Maybe)
Rating : General

Ff ini mengunakan sudut pandang hiu hwi. Kyuhyun hanya sebagai stempel saja XD. Ini pertama kalinya aku buat ficlet. Disarankan memutar lagu a good bye by super junior. Ini murni dari otak author sendiri. Maaf jika ffnya kurang dapat feelnya dan terlalu garing segaring membuatnya. Mohon kerja samanya tidak menge-bash maupun meng-copy ff ciptaan author ini.

 

Happy Reading~

Musim panas telah tiba. Semua warga Seoul tampak bersuka cita. Musim panas tahun ini membawa kebahagian bagi setiap orang, namun itu semua tak berlaku untukku. Bagiku musim panas tahun ini sama seperti musim panas di tahun sebelumnya. Kuhirup udara pagi yang begitu segar. Kubuka kedua mataku dengan penuh syukur karena Tuhan telah memberikan mata indah ini padaku. Hari ini seperti hari-hari sebelumnya. Aku merasa kesepian tanpa hadirnya dirimu. Rasanya baru kemarin aku merasakan kehadiranmu dan kemarin pula kau meninggalkanku luka yang begitu dalam.

Perasaan ini masih sama seperti kemarin-kemarin. Entah sampai kapan aku bisa bertahan di situasi seperti ini. Mata ini menangkap sebuah objek yang membuatku sakit hati lagi. Sebuah boneka beruang dengan ukiran namaku dan namamu. Manis sekali. Boneka pemberianmu sehari sebelum nyawamu dicabut oleh malaikat maut. Kupeluk erat-erat boneka berukuran besar itu. Tak terasa air mataku mengalir begitu saja dari pelupuk mataku. Kuhapus air mata tak berdosa ini dengan kasarnya.

Aku berjalan menuju taman samping rumahku. Di tempat ini kami selalu menghabiskan waktu luang. Setiap hari aku selalu di sini tuk menunggumu. Aku yakin, suatu hari nanti kau akan kembali bukan?

Genap tiga tahun kau meninggalkanku dengan ribuan kenangan manis bersamamu. Apakah kau tahu bagaimana rasanya ditinggal seorang yang kita cintai tanpa berpamitan terlebih dulu? Rasanya sakit sekali! Terasa sesak disini. Aku tak sanggup lagi. Akibat kecelakaan itu, aku harus menganggung semua ini sendiri tanpamu. Oppa, aku sangat merindukanmu. Kenapa kau harus pergi dariku? Kuingin kau kembali lagi.

Oppa, kau tahu? Perasaanku padamu sampai saat ini tetap sama. Aku tetap setia dengan janjiku. Sampai kapanpun kedudukan oppa di hatiku tak pernah tergantikan oleh siapapun. Perlahan kududukan tunbuhku di bangku panjang ini. terlintas kenangan dulu yang kita buat. Mulai menggoda orang yang sedang kencan sampai mengambil ice cream anak kecil sampai kita diomeli oleh eommanya. Aku tersenyum getir saat mengingat kenangan itu.

Kupandangi langit biru yang tampak indah dengan awan citrusnya. Aku kembali teringat kata-katamu sebelum kau meninggalkanku. “Di dunia ini tak ada yang abadi, begitu pula aku. Walaupun ragaku tak berada di sampingmu tapi jiwa ini akan selalu bersamamu. Apakah kau percaya dengan reinkarnasi? Aku yakin, suatu saat nanti kau akan menemukanku lagi, walaupun sepenuhnya itu bukan Kyuhyun yang dulu lagi. Kau harus berjanji padaku, jika suatu hari nanti kau bertemu denganku lagi, mohon cintailah dia seperti kau mencintaiku. Aku percaya padamu. Saranghae, jeongmal saranghae Lee Hiu Hwi.”

Tuhan tak adil padaku. Banyak namja di luar sana, tapi kenapa harus Kyuhyunku yang harus kau ambil? aku kembali menangis. Sampai saat ini aku belum menemukan dirimu, CHO KYUHYUN! Katanya kau yakin akan ada Kyuhyun yang akan mereda kesedihanku yang berkepanjangan ini. mana buktinya, MANA?!

Kini tangisanku semakin menjadi-jadi. Tak kuhiraukan tatapan aneh dari orang-orang di sekitar taman ini, yang terpenting bagiku yaitu keluar dari keterpurukanku yang tak ada habisnya bagaikan terowongan gelap yang tak berujung. Sebenarnya aku telah berusaha keras tuk melupakanmu walaupun kutahu ini takkan mungkin. Sepertinya aku tak dapat menghapusmu dari pikiranku.

Andaikan pada saat itu kyuhyun oppa kularang  pergi ke Busan tuk menjenguk kakanya yang sedang sakit, kecelakaan itu pasti takkan pernah tejadi. Tapi sayang, nasi telah menjadi bubur dan penyesalan selalu datang terlambat. Pada saat itu aku menangis selalu menyalahi diriku sendiri sampai saat ini.

Kini aku telah berada di atap gedung apartemen yang pernah Kyuhyun oppa tempati. Setiap malam minggu kami selalu berada di sini. Hanya di hiasi oleh beribu bintang di langit, memperindah sang cakrawala. Terkadang kami membuat taruhan menghitung para bintang yang ada di langit sampai-sampai kami kewalahan menghitungnya.

Terbelesit di pikiranku lebih baik aku mati saja daripada aku harus hidup di dunia ini yang penuhi rasa bersalah. Kulangkahkan kakiku menuju ujung apartemen ini. Sebelum aku meloncat dari ketinggian 700 meter aku berdoa pada Tuhan agar setelah ini aku ingin segera bertemu dengan seseorang yang telah mencuri hatiku 3 tahun yang lalu, Cho Kyuhyun. Maaf Hyun-ah, aku mengingkari janjimu. Sungguh! Aku tak bisa hidup tanpamu. Tunggu aku, aku segera menyusulmu.

Ketika aku akan meloncat, tiba-tiba sebuah tangan kekar menahan dan menariku ke dalam pelukkannya. “noona! Neo neomu baboya! Kau terlalu bodoh ingin mengakhiri hidupmu dengan cara seperti ini. Ingat noona! Jalan hidupmu masih panjang! Tak seharusnya kau berbuat seperti ini!” deg~ suaranya, pelukannya, sama seperti Kyuhyunku. Apakah ia Kyuhyun oppa? kudongakkan kepalaku. Benarkah itu Kyuhyun? Kyuhyun yang telah meninggalkanku 3 tahun yang lalu? Semua tampak seperti nyata!

Lalu lelaki itu mengiringku sampai di dalam apartemennya. Ia pergi ke dapur, tak lama kemudian ia membawa air minum padaku. Dengan segera kuminum air itu sampai habis tak tersisa. “gwenchanayo?” tanyanya sambil mengelus-elus rambutku. Kebiasaannya sama persis seperti mediang pacarku.

Aku hanya menganggukan kepalaku saja. Saat ini aku masih syok dengan pertemuanku dengan orang yang menyelamatkanku dari kebodohanku. “aku bukan orang jahat, tenanglah sedikit. Relax, relax” ucapnya sambil mengambil napas pelan-pelan. Aku mengikuti yang dia lakukan. “gomawo udah menyelamatkanku. Aku tak habis pikir jika aku bunuh diri sekarang, hancur sudah hidupku. Sekali lagi gomawoyo.” Kataku berterima kasih sambil berulang-ulang membungkukkan punggungku.

“ah, kau perlu seformal seperti itu noona. Sepertinya kita seumuran, kalau boleh tahu nama noona siapa?” “Hiu Hwi. Lee Hiu Hwi imnida.” “sepertinya nama itu tak asing bagiku. Tapi kapan, ya? Ah! aku lupa. Hehehe” ujarnya sambil tersenyum nyengir. Kuakui senyumnya manis bak permen kapas. “oh! Aku lupa memperkenalkan namaku. Joneun Cho Kyuhyun imnida. Semoga kita tambah akrab, Hiu Hwi-ah” lagi-lagi jantungku berpacu tidak normal kembali. Namanya pria ini sama seperti mantan pacarku. “kau tak apa-apa, Hwi-ah? Tampaknya kau kurang sehat hari in. lebih baik kau tidur disini saja dulu. Ayo aku antar ke kamarmu.” Ucapnya sambil membopong tubuh mungilku ini. Sebenarnya aku ingin menolaknya tuk bermalam di sini tapi lidahku terasa kelu tuk berbicara. Mungkin ini sudah menjadi takdirku tuk bertemu dengan Cho Kyuhyun kembali. Kini aku percaya dengan reinkarnasi. Cho Kyuhyun, gomawo. kau sudah membuktikannya, aku janji akan mencintainya seperti aku mencintaimu. Akhirnya aku menemukanmu lagi. Kuharap ini akan menjadi yang terakhirnya. saranghae, my endless love.

 

END

FF/Ever Lasting Friend Yeongwonhi

Author : theangels

Cast :

  • Park eun joon
  • Park min hye
  • Kai EXO
  • Cho kyuhyun
  • Others

Genre : tentuin sendiri

Length : oneshot

Cuap-cuap : hai, hai! Author bawa fff terbaru nih! Walaupun ff ini ff keempat author, tapi author memberanikan diri mengeshare ff milik author. Author terinspirasi dari saudara author yang juga tergila-gila dengan author dan ingin sekali lihat SS5INA. Kuharap kalian menyukai ff ini.

WARNING! TYPO BERTEBARAN DIMANA-MANA. NO PLAGIAT!

Happy Reading~

EUN JOON POV

Hi, hi, hi. Perkenalkan eun joon imnida. Aku siswi dongkyu art high school. Sekarang aku kelas XII. Boleh dibilang sebentar lagi aku akan lulus dari sekolah ini. Aku merasa aku itu barusan masuk di sekolah ini. Tak kusangka, waktu bergulir dengan cepatnya. Aku tengah mempersiapkan buku pelajaran hari ini. Jam masih menunjukkan pukul 05.30 KST.

Lima menit lagi aku harus berangkat sekolah. Aku sekarang masih eonnieku yang sedang asyik berdandang ria. “eonnie! Sudah siap apa belum?” tanyaku sedikit berteriak.

“sebentar lagi, saeng!” teriak eonnieku dari kamarnya. “aish, palliwa! Sekarang aku ada bimbel pagi. Atau aku berangkat duluan. eonnie minta eomma saja.” “shireo! Pokoknya aku bareng kamu. Eonnie sudah siap.” Kata eonnieku keluar dari kamarnya.

“eonnie lelet! Eomma! Kami berangkat dulu!” pamit aku. “kau tidak sarapan dulu, yoon-ah?” Tanya eomma dari dapur.

“aniyo eomma, aku buru-buru sekarang. Ya udah aku berangkat.” Aku dan eonnieku berangkat mengendarai sepeda motor kesayanganku. Maklum, setahun yang lalu yang membelinya dengan uang tabunganku, walaupun ada tambahan dari orang tuaku. Itu sangat membantuku keluar kemana-mana lagi.

SKIP TIME~

Untung aku tidak terlambat masuk sekolah. Kalau saja eonnieku tadi tidak kusuruh cepat-cepat bisa-bisa aku sekarang ada di ruangan khusus siswa yang terlambat masuk bimbel. “eun joon!” sapa salah satu temanku.

“eh sang rin. Waeyo?” tanyaku sambil mengambil buku fisika paket dan tulis. “kau udah mengerjakan pr fisika dari kim seongsangmin belum?” tanyanya. “nde, ini tinggal nomor 3,10,18,20. Wae?” tanyaku curiga. Pasti anak ingin mencontek hasil kerjaanku.

“aku boleh nyontek jaawabanmu gag? Aku gag bisa semuanya.” Katanya memelas. Kuduga. “ige. Nulisnya yang cepet. Lima menit lagi kim seongsaengnim udah masuk.” “nde, makasih eun joon. Kau sahabatku paling baik. Aku pinjem bukumu ya?” katanya sambil membawa uku tugasku. “aish, bocah ini. Datang cumin ada perlunya saja.” Ucapku kesalku.

“joon-ah, joon-ah, aku punya kabar baru loh!” kata chinguku sambil menyenggol bahuku. “apa beritanya?” tanyaku sambil membaca buku fisika (author:nie anak seneng banget ya sama pelajaran fisika,sama seperti itu #nunjuk kyupil)

“besuk maret akan ada SS5” Katanya sambil nunjukin majalah tentang SS5. “huwaaa!!!!aku pingin liat!” teriak kami –aku dan chinguku- berbarengan. “kalian berdua berisik!” kata para namja yang sedang mengerjakan pr.

Kami hanya berdegus kesal. “eottokkeh? Kau ingin melihatnya ‘kan? Aku lihat bareng ya?” pintanya. “sebenernya aku juga ingin. Tapi tabunganku masih belum mencukupi. Lagian tiketnya mahal-mahal. Uang jajanku saja kutabung agar aku bisa lihat SS5.” Ujarku sedikit curcol.

“apa aku pinjemin uang dulu. Untuk masalah mengganti urusan belakang, yang penting kita bisa lihat bareng-bareng.” Katanya semangat 45. “ah tidak usah sora-ya. Nanti aku malah merepotkanmu. Lebih baik aku ngumpulin uang dulu. Lagian SS5 disini ‘kan diadakan dua kali. Pada saat pembukaan dan penutupan. Aku ‘kan bisa lihat pada saat penutupannya.” Ucapku enteng.

“iya juga sih. Ya udah, aku kembali ke kelas dulu, ya? Belnya udah bunyi tuh. Sampai ketemu lagi.” Kata sora meninggalkan aku sendiri di kelas yang penuh dengan kebisingan. Bagaimana tidak? Siswa-siswa disini masih repot dengan prnya termasuk kim sang rin. Padahal oppanya pintar dalam bidang ini –fisika-. Pernah suatu hari aku bertanya kepadanya kenapa dia tidak mau mengerjakannya dengan oppa. Dia Cuma bilang kalau dia harus mengerjakannya sendiri. Gag boleh manja pada orang lain.

Kupikir-pikir benar juga perkataan oppanya sang ri itu. Tak lama kemudian sang ri muncul di hadapanku. “in buku tugasmu gomawo udah mau minjemin. Soal yang masih kau jawabin udah kujawab. Tadi aku nyontek punyanya si kaca mata tebal itu. Sekali lagi gomawoyo.” Katanya sambil menundukkan punggungnya.

“ne, cheommaneyo. Udah sana, kembali ke bangkumu. Kim seongsaengnim udah datang.” Kataku sambil menunjuk guru yang menurutku lumayan killer. Sebenarnya gag killer tapi kadang-kadang terlanjur mengerjakan tugas, gag di koreksi. Tapi pada saat aku males mengerjakan tugas itu malah di koreksi. Aku paling sebal sepeti ini.

Oh ya. Aku belum memberitahu kalian semua. Aku ini ELF, lebih tepatnya SPARKYU. Kalian mengerti kenapa aku suka dengan si epil itu? Ya akan kuceritakan dari awal agar kalian mengerti

FLASHBACK

“Eonnie pulang!” teriak eonnieku dari ruang tamu. Selalu mengganggu saja. Eonnie menghampiriku sambil mencubit pipiku.

“yak! Appo!” rintihku kesakitan. “dasar manja. Cumin segitu saja udah menjerit.” Ejek eonnieku. “yak! Kau kenapa sih selalu mencubit pipiku, huh?! Sakit tahu. Kalau kubales gag mau ‘kan.” Ucapaku kesal. Bagaimana tidak kesal, gusiku sebelah kiri sedang sakit. Dasar peranakan setan.

Pletak! Sebuah jitakan mendarat mulus di kepalaku. “dasar gag punya sopan santun. Harusnya kau memanggilku eonnie. Cih!” “udah-udah. Kalian dari tadi ribut terus. Sehari tidak ribu kenapa?” relai oppaku yang juga barusan pulang sekolah.

“yak! Kai oppa. Eonnie duluan yang ngajak perang!” aduku. “dia duluan. tadi pagi dia udah mencoret-coret gambar wajah kekasihku.” Adu eonnieku juga. “itukan hanya gambar eonnie. Lagi pula dia gag bakalan marah.” Kataku enteng. “yak! Aku dapat gambar itu penuh perjuangan eoh! Tidak mudak mendapatkan gambar donghae yang begitu sempurna. Malah mencoret-coretnya.” Kesalnya.

“aish, jangan bertengkar! Kau, hye min. jangan seperti anak kecil lagi. Kau ‘kan udah SMA kelas X. jangan berkelakuan seperti anak kecil. Dan kau juga, eun joon. Kau jangan mengganggu eonniemu ini. Jangan membuat dia marah. Sekarang kalian minta maaf. Oppa tidak akan memberikan kalian ini.” Kata oppaa sambil memperlihatkan psp miliknya.

“eonnie, maafkan aku. Aku memang salah.” “aku juga minta maaf saeng.” Kata eonnieku juga. Kamipun saling berpelukan. Itulah kebiasaan di keluarga kami.

“aku udah minta maaf pada eonnie. Sekarang mana psp oppa?” tanyaku mendekati oppaku. “ige. Jangan rebutkan. Awas kalau sampai rusak. Oppa tak akan memberikan psp lagi.” Nasehat oppa. “nde!” ucap kami –eonnie&aku- berbarengan.

“hye min, eun joon, kai. Waktunya makan siang!” teriak eomma dari dapur. “nde!” kata kami berbarengan pula. Kami berjalan menuju ruang makan tuk makan siang yang penuh kedamaian.

SKIP TIME~

Kini aku telah berada di kamarku berwarna biru laut itu. Kurebahkan badanku ke kasur empukku.

Tok-tok-tok! Bunyi ada yang mengetuk pintu kamarku. Pasti itu eonnie. “masuk!” nonggollah (?) eonnie sambil menjoget-joget gag jelas.

“wae eonnie?” kataku sambil menatap aneh eonnieku. “aku hanya ingin musikan disini. Disana aku di marahin oppa. Kau ‘kan tahu sendiri, oppa sifatnya seperti itu. Tidak suka kebisingan. Jadi kuputuskan musikan disini. Boleh ya?” pinta eonnieku sambil menunjukkan wajah aegyonya yang ancur itu. “nde.’ Jawabku singkat.

“gowayo saengku. Kau memang saengku paling baik.” Katanya sambil memelukku. “nde. Eonnie, sesak!” “ah, mianhae!”

“eonnie mau dengerin lagunya siapa sih? Sepertinya asyik. Kataku sambil melihat isi daftar lagu milik eonnieku. “ah, aku dengerin lagunya super junior. Lagunya bagus-bagus loh. Kau ingin mendengarnya?” Tanyanya sambil memutar musiknya.

Lagu yang diputar sekarang bonamana. Katanya lagu ini yang terlaris tahun ini. Awalnya aku kaget mendengar suara bassnya yang lumayan keras. Lama-kelamaan aku ikut terhanyut dalam lagu itu. Kuakui lagu ini sangat enak didengar.

“eonnie, cepat kirimkan lagunya. Aku minta!” pintaku. “nde, bluetothmu udah nyala belum?” katanya eonnieku udah siap-siap mengirim lagunya ke hpku. “udah eon. Tak membutuhkan waktu lama aku udah mendapatkan lagu itu.

“selain bonamana ada lagi gag eon?” “ada dong. Kau tak tahu ya? Aku ini ELF.” “ELF? ELF itu apa eon?” tanyaku bingung. ‘ELF itu nama fansclub super junior. Kau mulai menyukai super junior ya?” Tanya eonnieku sambil menyenggol bahu.

“kurang lebih sih begitu.” “kau ingin lihat gag mv lagu ini. Aku punya loh!” “jinjja? Aku ingin melihatnya eon. Palli.”

Eonnie memperlihatkan mvnya yang ada di dalam hpnya. Semua personilnya keren-keren! Aigo~ cakepnya mereka. Tapi mataku tidak mau pindah kemana-mana saat melihat namja yang senyumnya itu seperti setan.

‘’eonnie” panggilku. “hmm” jawab eonnieku tidak lepas pandangannya dari hp layar sentuhnya. “namja yang pakai jas itu siapa namanya?” tanyaku sambil menunjuk kearah si namja tersebut. “oh itu? Itu kyuhyun. Nama lengkapnya cho kyuhyun. Wae? Aku menyukai namja ini?” Tanya eonnie dengan tatapan curiga.

Aku hanya menganggukan kepala. “hahahah!” tawa eonnieku. Kenapa eonnieku ketawa? Apa ada yang lucu?

“ada yang lucu ta eon?” “ani, aniyo~ hanya saja aku heran melihatmu. Kenapa kau itu suka sama namja setan seperti dia. bahkan ia sama evilnya denganmu.” Kata eonni masi ketawa seperti mak lampir (?) “yak! Suka-suka aku. Yang suka dia ‘kan aku bukan eonnie. Tadi namanya siapa? Aku lupa.” “KYUHYUN! CHO KYUHYUN!.” Kata eonnieku di samping kuping.

“aish, selalu saja seperti ini.” Ucapku sambil meniup kupingku bergantian. “lalu yang namanya dongek, dongek yang selalu kau banggakan mana?” tanyaku melihat kembali mvnya. “itu, yang barusan sulap tadi. Tampan bukan.” Kata eonnieku membangga-banggakan idolanya itu.

“cumin segitu saja udah bangga. Aku akan mengalahkan idola eon dengan idoalku. Tungga saja pembalasanku eon.” Kataku sambil memperlihatkan senyuman mautku. “nde. Akan kutunggu pembalasanmu. Udah, eon mau tidur. Kalau ingin minta, minta saja. Eon mau tidur disini.” Kata eonnie mengambil bantal yang kupegang dari tadi. “dasar ratu tidur!”

Tak lama kemudian eonnieku udah berada di alam mimpi. Ini anak cepet banget tidurnya. Ah lebih baik aku ngirim lagu saja. Kira-kira yang yang bagus yang mana ya? Ah mending semua file lagu punyanya eonnie kukirim semua.” Kataku sambil mengirim semua file yang ada di folder super junior.

15 menit kemudian

Yah, akhirnya semua udah terkirim. Kudengarkan lagu satu persatu. Lagunya eon kebanyakan kok slow begini ya? Dasar yeoja meng-slow. Eonku ‘kan suka banget lagu yang slow-slow. Kuputuskan aku tidur di samping eonku. Kututup mataku perlahan dan mulai saat itu aku resmi menjadi seorang ELF.

FLASHBACK END

Tak terasa pelajaran kim seongsaengnim udah berakhir. Senangnya. Tapi setelah pelajaran fisika ‘kan matematika. Udah dibikin pusing di pelajaran fisika sekarang di tambah lagi. Ah! Aku benci matematika!

SKIP TIME~

“AKU PULANG” teriakku sambil meletakkan tasku di kursi samping kamarku. “kau sudah pulang?” kata eonnieku sambil melihat tv. “nde. Eon gag sekolah eoh?” tanyaku sambil meneguk segelas air. “nde, tadi eon pulang pagi.tadi waktu eon pulang, eon lihat majalah terbaru kalau sebentar lagi suju mengadakan SS5. Wah, rasanya aku ingin sekali lihat. Lagian tabungan eonnie lumayan buat lihat konser mereka.” Cerocos eonnieku panjang lebar.

“aku juga udah tahu, eon. Aku juga ingin melihat konsernya. Tapi tabunganku masih belum mencukupi.” Kataku memelas.

“itu salahnya kau sendiri. Lumayan terkumpul banyak aku selalu member barang ini itu. Sekarang rasakan sendiri.” “yak! Eonnie selalu saja berbicara kasar padaku.” Kataku sambil memajukan bibirku 5 cm.

“bukannya eon berbicara kasar padamu tapi coba kau piker dulu sebelum membeli barang. Kau lihat sendiri ‘kan barangmu banyak yang gag kau pakai.” “aku ‘kan cumin mengoleksi saja eon. Lagi pula barang itu limited edition.”

“yah terserah kau saja. Eon mau tidur.” Kata eon beranjak dari tempatnya. “jangan lupa makan. Eon udah nyiapin makanan buatmu. Eomma sekarang dii rumah nenek. Besuk eomma udah pulang kok.”

Blam~ suara pintu eon tertutup sempurna. Aku hanya menghela napas berat. Benar kata eonku. Aku terlalu menghambur-hamburkan tabunganku. Mulai hari ini aku akan berhemat. Itu pun hanya semata-mata ingin meliat oppaku “CHO KYUHYUN” my prince, penyemangat belajarku.

4 bulan kemudian

Tak terasa sekarang udah bulan maret. Dan kurang 2 minggu lagi super junior akan konser di korea. Kyaaa~ aku udah sabar ingin melihat penampilan mereka. Tapi tabunganku tetep saja gag mencukupi harga tiket SS5. Rasanya thun ini aku tidak bisa melihat melihatnya.

Aku sekarang berada di halaman belakang rumahku. Setiap hari aku selalu berada disini. Tuk melepaskan rasa penatku seharian ini.

Angin berhembus dengan lembutnya. Anak-anak rambutku ikut merasakan sejuknya hawa disini. Tiba-tiba sepasang tangan kekar menutupi kedua mataku. Aku sudah yakin ini tangannya kai oppa. “oppa, aku sudah tahu kalau itu kau. Cepat lepaskan tanganmu dari mataku. Aku tidak bisa melihat apa-apa oppa!” kataku berusaha melepaskan tanganya dari mataku ini.

Perlahan tangannya mulai menjauhi dari mataku. “kau itu selalu tahu. Oppa udah kangen dengan dongsaengku yang paling nakal ini.” Katanya sambil mencubit kedua pipiku. Tangannya selalu jahil. Tapi sangat menyukainya saat seperti ini.

Udah dua bulan oppaku tidak pulang ke rumah. Karena oppaku sekarang sering tidur di rumah temennya. Katanya buat mempersiapkan UAN tahun ini. Ya, sekarang oppaku udah kelas XII SMA. Tidak heran lagi oppaku selalu sibuk dengan belajarnya. Oppaku ini memang kutu buku.

“kau kenapa disini sendirian? Kau merindukanku eoh?” katanya sambil mencolek daguku. “aniya! Kau terlalu PD tuan park! Mana mungkin aku merindukan seorangg namja menyebalkan seperti kau.”

Pletak! Sebuah jitakan mendarat di atas kepala saengnya pelan. “yak! Appo!” teriakku kesakitan. “itu karena kau tidak memanggilku oppa.” Kata oppa penuh kemenangan. “ih, kau ingin aku gagar otak gara-gara jitakanmu eoh?”ucapku kesal.

“salahnya sendiri kau begitu. Kau masih belu menjawab pertanyaanku yang awal. Kenapa kau disini sendirian? Tumben.” “aku capek dengan pr-prku semua. Sebentar lagi aku juga akan menghadapi UAN oppa. Aku jenuh belajar. Aku butuh refresing.” “oh begitu. Tapi aku lihat kau tampak menyedihkan begitu? Ayo ceritakan kepada oppa. Mungkin oppa isa bantu.”

“begini, 2 minggu lagi ‘kan suju mengajakan SS5. Aku pingin banget melihat penampilan mereka tapi aku uang tabunganku masih belum cukup tuk membeli tiket. Ah! Aku jadi frustasi!” kataku sambil mengajak-ngajak rambutku.

“oh, itu masalahnya. Kalau saja oppa punya uang, pasti oppa akan membelikan tiket SS5 tuk kamu. Tapi saying, uang oppa masih buat mbayar uang kenang-kenangan.” Katanya menunduk. “gwenchanayo oppa. Aku udah senang bisa jadi ELF walaupun aku tidak bisa bertemu langsung dengannya. Bagiku itu sudah cukup.” Kataku menutupi kekecewakanku.

“jinjja? Kenapa tambah cemberut gitu huh? Senyum lagi dong. Oppa kesini ingin lihat kau tersenyum. Cja.. ayo tersenyum J” ajak oppaku sambil memperlihatkan senyum menawannya itu. Aku sungguh merindukan senyumannya itu.

“ayo kedalam. Oppa ingin makan bersama saengku yang manja.” Ucapnya sambil menggendongku ala bridal. Aku hanya menundukkan kepalaku dalam dada bidangnya. Hangat. Itulah aku rasakan sekarang.

EUN JOON POV END

Kini tibalah saatnya bagi ELF yang ingin membeli tiket mulai berbondong-bondong menyerbu loker tiket. Dalam waktu 10 menit tiket ludes terjual. Seorang yeoja yang sedari tadi melihat kehebohan para ELF tersebut hanya menghela napas panjang.

Ia juga ingin seperti mereka tapi ia hanya membawa 500 ribu won. Itu pun masih belum mencukupi tuk membeli tiket. Tiba-tiba ada seorang namja yang umurnya kira-kira 25 tahunan dengan memakai kacamata dan masker bisa dibilang dia seperti buronan yang barusan kabur dari penjara menghampiri yeoja tersebut.

“apa kau yang bernama park eun joon?” Tanya namja tersebut. “nde? Kau kok tahu namaku? Kau siapa? Kau apa dariku?” Tanya yeoja itu was-was.

“ikut aku.” Kata namja tersebut sambil menarik pergelangan tangan yeoja yang bernama eun joon itu. Eun joon pun berusaha melepaskan cengkraman dari namja tersebut. Hingga sampailah ia dan namja itu di backstage.

“kau ini siapa? Kenapa aku dibawa kemari? Kau ingin apa huh?” tanyanya membentak. “suaramu mohon dipelankan. Aku ini biasmu.” Ucapnya sambil melepaskan barang pesamarannya itu. “kaaa..kau….cho kyuhyun?!” teriak eun joon tidak percaya.

“nde, aku cho kyuhyun. Pria tertampan seantero dunia keartisan. Aku sengaja mengajakmu kemari tuk memberikan ini.” Katanya sambil memberikan selembar tiket VVIP ke eun joon. Kini ia mulai hysteria karena berhasil mendapatkan tiket SS5+bertemu langsung dengan biasnya. “aku ingin bertanya pada anda. Anda tahu nama saya dari mana? Dan juga tahu kok tahu aku?”

Namja bernama kyuhyun tersebut memperlihatkan smirk smilenya. “dua hari yang lalu ada seorang namja datang ke dorm kita. Lalu ia meminta kepadaku menyerahkan tiket ini kepadaku. Ia juga memberikan fotomu. Untungnya kau itu masih berada disini, jadi dengan mudahnya aku bisa menemukanmu.” Katanya panjang lebar.

“kalau boleh tahu nama namja itu siapa?” Tanya eun joon.

“mianhae, ini privasi. Ia tidak mau memberitahu pada kami.” Katanya masih tersenyum. “gamsahamnida kyuhyun-ssi. Berkat anda, aku bisa melihat penampilan kalian. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih.” Kata eun joon sambil membungkukkan badannya.

“cheonmaneyo eun joon-ah. Kau tak perlu memanggilku kyuhyun-ssi. Panggil saja aku oppa. Aratchi?” “nde, arraseo. Hmm, aku boleh tidak minta fotomu oppa.” Tanya eun joon malu-malu. “dengan senang hati.” Kyuhyun mendekatkan tubuh di samping eun joon dan mulai memoto diri mereka.

“neomu kyeopta! Jeongmal gomawo oppa. Aku senang bisa bertemu pada oppa. Aku pulang dulu oppa. Ini sudah sore.” Pamit eun joon

“nde, aku juga senang bertemu denganmu. Hati-hati di jalan.” Kata kyuhyun sambil melambaikan tangannnya.

Eun joon pun ikut membalasnya. “SS5, I’M COMING!!!” teriak eun joon kegirangan. Ia tak menyangka bisa bertemu dengan biasnya sekaligus bisa melihat konser langsung. “aku tahu pasti ini semua kerjaannya oppa. gomawo oppa. aku jaadi tambah saying sama oppa.” kata eun joon dalam hati. Yeoja itu berjalan dengan penuh keceriaan. Tak lupa sebuah senyuman terus ia pancarkan. Hari ini merupakan hari yang membahagiakan baginya. Tak sabar lagi ia ingin melihat kesepektarkuleran boyyband yang tengah naik daun tersebut.

Keesokan harinya

EUN JOON POV

Kini aku telah berada di dalam ruangan yang penuh dengan para ELF yang tengah membawa lampstick berwarna blueshapirre. Ya, aku sekarang melihat oppadeul konser. Aku sungguh tak menyangka aku bisa melihat sedekat ini. Aku benar-benar ahagia sekali.

Aku kesini bersama chinguku, sora. Aku berada di tempat VVIP. Eonku ada di tempat VIP. Walaupun jaraknya lumayan jauh tapi tidak membuatku patah semangat.

Tiba-tiba lampu panggung dan stadium padam. Bebarengan itu oppadeul memunculkan dirinya dari bawah ke atas panggung. Kami berteriak histeris melihat mereka. Aku sangat bersyukur bisa melihat mereka berkumpul walaupun tanpa leeteuk dan heechul tapi itu sudah cukup memnbuatku berkecak kagum dengan penampilan mereka.

Apa lagi penampilan kyuppa. Bagiku penampilannya kali ini, astaga! Keren sekali! Kami sebagai ELF akan selalu menyuport mereka apapun yang terjadi dan kami akan selalu setia padanya. Karena kami EVER LASTING FRIEND YEONGWONHI!

‘END’

 

Akhirnya, ffku yang super gaje ini selesai juga (menyeka keringet dibantu donghaeoppa). Makasih udah mau baca ffku ini. Tunggu ffku yang lain ya? (pergi bareng bang fishy)

FF/The Power of Love

Author : Theangels’

Cast :

  • Han hye ae
  • Lee donghae

Length : one shot
Genre: romance
Cuap-cuap: nie FFku yg pertama,mian cl0w gaje en’ jelek. selamat membaca ^^

GambarDonghae lari kegirangan karna dia diterima di Universitas Super Junior yg menurutnya universitas yg sangat sulsah tuk menjadi mahasiswa disana. universitas Super Junior merupakan universitas kesenian yg terkenal di Seoul.

tidak heran jika banyak yg mau mendaftar disana termasuk dirinya. tidak sembarang orang bisa lolos menjadi mahasiswa di universitas tersebut. bagi pendaftar harus mempunyai multitalent dan punya pengalaman menjadi artis.

donghae sempat gugup da kepikiran tidak diterima di universitas favoritnya. setelah menjalani tes ternyata dia dinyatakan lolos dan berhasil menjadi mahasiswa disana. dongahe masih belum percaya bahwa dia diterima oleh universitas tersebut.

dia merasa perfomnya kurang sempurna dan suaranya jelek, ternyata diterima. setiba di rumah dia memeluk appanya.

“appa..appa…aku diterima, eomma lihat! aku diterima!” kata dongahe kegirangan. “bagus, anakku. kau anak appa yg paling appa sayangi.” kata appanya Donghae sambil mengelus-elus rambutnya Donghae lembut.

“Gomawo appa. tampa appa,mungkin aku tidak diterima.” “Sudah, ayo kitta makan untuk merayakan diterima kamu di universitas favoritmu.”

“ne appa” kata Donghae sambil menganggukkan kepalanya. hari ini keberuntungannya Dongahe. dia berharap diterimanya di Universitastersebut dia bisa melatih seninya lebih baik lagi dibidang suara dan dance karan dia ingin membahagiakan appanya yang dulu ingin sekali menjadi penyanyi tetapi oleh appanya tidak diperbolehkan ananknya menjadi penyanyi. sejak saat itu Donghae dilatih appanya menyanyi dan dance supaya dirinya tidak seperti appanya.

Keesokan harinya, Dinghae sudah bersiap untuk berangkat ke kampus.

“weh….yg diterima di Universitas favorit sudah siap-siap ni ye..” kata Leeteuk yg sedari tadi menperhatikan gerak-gerik namdongsaengnya.

“ah,hyung,bisa saja kamu.” kata Donghae tersenyum simpul. “sudah, nanti kamu telat masuk. jebal berangkat sana!!” “anterin ya,Hyung. jebal!!” kata Donghae sok aegyeo.

“ia,ia,nanti hyung anterin. yang cepat ya!”

“ne,ini hampir selesai. eomma, appa aku berangkat dulu ya!” kata donghae sambil mencim tangan kedua orang tuanya.

@universitas

DONGHAE POV

yeah, akhirnya aku diterima di universitas favoritku. sampai disini kutelusuri ini universitas dan mencari-cari ruanganku. saking senengnya atau gag liat jalan aku menabrak seorang yeoja di depanku. “aduh!!” kata yeoja itu kesakitan. “mianhae,aku gag sengaja.” kataku sambil menunduk.

“aniya, seharusnya aku yang mianhae karna aku yang gag liat jalan.” “itu juga salahku juga.” kataku sambil mendirikan tubuh mungilnya itu. “gomawo udah menolongku, kau murid baru disini?” “ne,aku murid baru disini.”

kkkkkrrrrrriiiiiiiinnnnnnggggggg!!!!!!!!!

“udah bel,aku masuk ruanganku ya?” kata yeoja itu sambil meninggalkanku. padahal aku masih ingin tanya siapa namanya malah sudah bel. aku langsung mencari-cari ruanganku.

setelah kurang lebih lima menit aku mencari ruanganku akhirnya ketemu. aku ada di ruangan vokal+dance A. kumasuki ruanganku dan aku dapat duduk paling belakang. selang beberapa lama kemudian masuklah sonsaengmin yang kelihatannya killer.

“selamat pagi anak-anak, kim hyun joong imnida. sekarang perkenalkan diri kalian masing-masing dimulai dari bangku paling depan pojok kanan.”  satu per satu mereka memperkenalkan dirinya masing-masing, tersisa aku dan yeoja yang tadi aku tabrak. ternyata dia seruangan denganku. “joneun han hye ae imnida. panggil saja aku hye ae. mohon bantuannya.” katanya sambil menundukkan kepalanya dan kembali duduk.

“oh…namanya hye ae? cantik juga.” gumanku dalam hati. karna keasyikan melihat hye ae aku dikagetkan oleh namja disampingku. “sekarang giliranmu” “ehem, lee donghae. cukup panggil saja donghae” kataku sambil duduk seperti semula.

“oke, perkenalannya sampai disini. sekarang kita latihan ambil suara, arraseo!!!” “ne arraseo!!” dua jam kemudian bel tanda istirahat mulai berbunyi. aish, suaraku hampir habis gara-gara dibuat latihan tadi.  secara tidak sengaja aku melihat hye ae duduk sendirian di taman. kesempatan bagus untuk mendekatinya.

kubawakan dau gelas es jeruk yang kubeli di kantin. enak bukan panas-panas minum yang dingin-dingin. perlahan kudekati dia, tapi entah mengapa ketika aku hampir dekat dengannya kakiku terasa kaku. “donghae kau hampir sampai, jangan gugup dan tetap semangat” kataku dalam hati. ketika hampir disampingnya dia malah pergi.

“donghae,ini minumannya buat aku ya?” tanya eunhyuk yang mengagetkanku. untung aku gag punya penyakit jantung. awas ya eunhyuk, kalau kau ulangi lagi, matilah kau!! “ini,buat kau saja.” “jeongmal???” “kalau tidak mau kuminta kembali minumannya!” kata Donghae agak kesal. “andwae! panas-panas kan paling enak minum yang seger-seger. kuminum ya?” kata eunhyuk sambil menghabiskan minumannya.

“pelan-pelan napa? liat bajumu,basah semua” kataku sambil menunjukkan baju hyukie yang basah. “habis enak sih minumannya,…” belum selesai bicaranya bel masuk sydah berbunyi. “eh,sudah bel. ayo kita masuk.” “eh,eh,eh gelasnya gimana?” tanyaku pada hyukie. “kembalikan saja ke kantin, kamu kan yang beli.” jawab hyuk meninggalkanku.

“aish, kau ini ingin cari enaknya saja.” kataku sambil memanyunkan bibirku. ketika aku mengembalikan gelas tiba-tiba kuliat hye ae sedang bercakap dengan namja lain. aku tak tahu mereka sedang membicarakan apa. tapi dari raut muka hye ae saja *seperti dukun saja* seperti sedang bersedih hati *memang beneran*. andaikan aku ada di sisinya, mungkin dia agak terhibur. aish, kenapa aku berkhayal begituan. kucepat langkahku ke kantin dan berlari ke ruanganku. semoga sajaguru killer itu belum masuk ruangan

DONGHAE POV END

sesampai di ruangan, donghae menbukakan pintu dan gurunya sudah ada di ruangan. “matilah kau donghae!!!!” kata donghae dalam hati. “donghae, kau darimana saja? kau telat 10 menit. sekarang bersihkan lorong ruangan sampai bersih. arraseo!” “ne, arraseo.” jawabku sambil meninggalkan ruangankiu.

“sial banget aku hari ini, bisa-bisanya di hukum oleh guru killer itu.” ketika sedang berjalan menuju ke lorong ruangan tiba-tiba seseorang memanggil-manggil namanya dari belakang.

“oppa,oppa!!!” “eh,hye ae.kenapa kau kesini?”

“aku dihukum oleh guru hyun joong.” “berarti kita sama dong.” “sama apanya?” tanya hye ae garuk-garuk kepala. “sama-sama dihukumlah, hye ae..” “oh, ne.”

“ayo kita bersihkan lorong ini, keburu dimarahin lagi.” “hmm.” kata hye ae menganggukan kepalanya.

20 menit kemudian

“akhirnya selesai juga pekerjaan kita, ternyata lorongnya lumayan besar juga, ya?” curhat donghae panjan lebar. “ne, oppa.”

donghae merogoh-rogoh sakunya. “kau mau permenkah?” tawar donghae sambil menyodor beberapa permen ke hye ae.

“gomawo oppa” kata hye ae sambil membuka bungkus permen.

“kalau boleh tahu rumahmu dimana?” “oh, rumahku di Mokpoo, kau mau main ke rumahku?” “tidak juga, cuman tanya saja.”

“oh” kata donghae singkat.

“yuk kita kembali ke ruangan.” ajak donghae. “ne,kajja!” kata hye ae sambil  jalan beriringan dengan donghae. ‘deg,deg,deg’ jantung donghae berdegub dengan kencang ketika berjalan dengan hye ae. dia tidak tahu perasaan apa yang dirasakannya saat ini.

akhirnya mereka sampai di ruangannya. “donghae, hye ae,apakah kalian sudah membersihkan lorong ruangan?” tanya guru hyun joong sambil berkacak pinggang.

“ne.” kata mereka bersamaan.

“kembali ke bangku kalian masing-masing! sekarang kita lanjutkan yang tadi.”

“hey, tadi kau bicara apa dengan hye ae? jangan-jangan kau nembak dia ya? ngaku,ngaku!!” tanya eunhyuk menepuk bahu temannya yang barusan duduk.

“a…aniya. mana mungkin aku nembak dia. aku ‘kan gag punya perasaan ke dia.” kata donghae sewot. “alah, jangan bohong. dari raut mukamu saja gag bisa disembunyikan. biar kutebak, kau lagi jatuh cinta sama hye ae, ya?” “gag mungkinlah, hye ae ‘kan orangnya cantik, udah gitu putih, lumayan putih pula. mana mungkin aku suka sama hye ae. ada-ada saja.”

“sudahlah, kalo kau benar-benar suka padanya segera kau tembak keburu ada yang punya lho” kata eunhyuk beri saran.

“kalo urusan itu kupikir-pikir dulu.” jawab donghae santai. “anak-anak, pelajaran kita cukup sampai disini. kita lanjutkan besuk. selamat siang anak-anak.” “siang pak!” jawab mahasiswa serempak. donhae dan eunhyuk keluar dari ruangannya menuju halte.

belum sampai di halte tiba-tiba mobil mewah berhenti di depan mereka. “ayo bareng sama aku, mumpung kita sejalur.” belum sempat donghae berkata sudah didahului eunhyuk.

“ne, kajja” kata eunhyuk menarik tanganya donghae. donghae hanya bisa diam dan menuruti kemauannya temannya. di dalam perjalanan mereka bercanda dan mengobrol-ngobrol hingga tak terasa sampailah mereka di rumahnya donghae. “gomawo chingu, kalian gag mampir ke rumahku dulu?” tawar donghae kedua temannya.

“ani, kapan-kapan saja kita main ke rumahmu. kami pulang dulu, ya? pai, pai!!” kata hye ae sambil melambai-lambaikan tangannya.

donghae membalasnya dengan lambaian tangan juga.

“cie..cie…diantar sama paca baru ini ye!” goda leeteuk di depan rumah. “ah, hyung. aku cuma temenan biasa. masak baru masuk langsung dapat pacar? ada-ada saja hyung.” kata donghae. “halah, tidak usah bohongo hyungmu ini, daripada kau sakit hati lagi gara-gara gag diterima si yeoja pujaan hatimu saat kau SMA. namanya…..siapa ya namanya? kok lupa gini?” kata leeteuk sambil mondar-mandir.

“aish, sudah, jangan diingat kembali, aku sudah muak dengan yeoja itu. aku mau mandi” kata donghae meninggalkan leeteuk di depan rumah sendirian.

“eh, ikan, jangan tinggalin aku!!” teriak leeteuk sambil berlari menghampiri namdongsaengnya dan memeluknya dari belakang.

“hyung, kau selalu saja memelukku, sehari saja hyung gag meluk aku. emang hyung gag pernah berpelukan dengan kang sora?”

“kalau itu sih, jangan ditanyakan. aku ‘kan suka memelukmu. memelukmu saja rasanya seperti dipeluk kang sora.” kata leeteuk mempererat pelukannya.

“hyung! gajemu kumat lagi. lepaskan aku hyung! jebal! aku risih dipeluk!” teriak donghae kesal dan berusaha melepaskan pelukan hyungnya.

“andwae, tetaplah seperti ini, kumohon.” pinta leeteuk. “ne, tapi jangan lama-lama, bau badanku udah gag enak nih.”. leeteuk melepaskan pelukannya dan donghae berjalan menuju kamarnya terlebih dahulu lalu menuju kamar mandi. ia terus memikirkan sesosok yeoja cantik yang selalu menghantui pikirannya. tak lain dan tak bukan yeoja itu adalah HAN HYE AE.

ia tidak menyadari bahwa ia benar-benar jatuh cinta. dongahe memberhentikan lamunannya karna ia dipanggil eommanya.

ia menyudahi mandinya dan bergegas ke suara itu berasal. eommanya ada di ruang tamu bersama appanya. “dongahe, eomma dan appa mau keluar, kau jaga rumah ya?” “ne, tapi hyung mana eomma?”  “oh, tadi hyung ada janji dengan pacarnya, jadi kau jaga rumahnya sendirian, gag apa-apa?” “ne.” “mungkin eomma pulangnya agak malem, kau boleh ajak chingumu ke rumah, arra?”

“ne arra.”

“kami berangkat, hati-hati di rumah” kata appa meninggalkan donghae sendirian.

DONGHAE POV

hari ini aku ditinggal keluargaku pergi. padahal mereka tahu kalau aku orangnya penakut. aisssshhh, kenapa teuk hyung ada acara date sih ma noona sora?

kuberanikan diri ke kamarku. tiba-tiba bel rumahku berbunyi. aku sungguh kaget 1000 kali lipat dan takut kalau yang memencet bel itu adalah HANTU!!!!.

mungkin ini karma buatku karna waktu kecil suka memencet bel tetanggaku hingga aku di jewer karna ketehuan membuat kejahilan *buka aib*.

spontan keringat dinginku keluar, tapi aku haruss memberanikan diri membukakan pintu. perlahan kubuka pintunya dan “oppa, mianhae malam-malam aku ke rumahnya oppa. aku ingin belajar  bersama oppa. tadi aku lupa mau bilang ke oppa dan kalau mau menghubungi oppa, au gag punya nomernya oppa. ” kata hye ae panjang lebar. “gwenchanayo, ayo masuk.” ajakku agak gugup.

aku dan hye ae masuk ke rumahku dan berjalan menuju ruang tamu.

“kita mulai dari mana?” tanyaku sambil buka-buka buku. “dari yang pertama saja, aku masih belum paham soal ini” “ne, sini kuarjakan.”

belum mulai kalau belajar tiba-tiba……”kyaaaaaa!!!!!” teriak hye ae sambil memelukku. “tenanglah, ini hanya mati lampu. aku ambilkan lilin dulu, ya?” kataku sambil berdiri dari tempat dudukku. “andwae, tetaplah disini, aku takut kegelapan.” kata hye ae sambil menari-narik lenganku dengan kencang.

karna aku tidak begitu besar sampai-sampai aku ambruk dihadapannya dan aku merasa bibirku menempel di bibir hye ae. apakah ini aku berciuman dengan hye ae? jantungku berdegub dengan kencang. aku gag menyangka aku dapat first kissku dengan chinguku sendiri.

pertama aku merasakannya dengan lembut, lama kelamaan  semakin panas. apa ini rasanya berciuman? kami melakukannya cukup lama, hingga lampunya menyala kembali.  “mianhae, aku yang salah.” kata hye ae dengan pipinya yang merah.

“a…aniya.itu juga salahku. karna aku, semuanya jadi begini.” kataku menunduk. kita semua diam mebisu dam masih memikirkan kejadian yang barusan dialami.

“sudahlah, jangan dipikir lagi, aku udah memaafkanmu, ayo kita lanjutkan yang tadi, keburu malam.”

pukul 21.00

“sudah malam, aku pulang ya?” katanya sambil merapikan buku-bukunya. “ne, lagian sopirmu udah ada di depan.” kataku sambil menunjukkan sopirnya lewat jendela.

“ya udah, aku mau pulang.”

“ne, gomawo udah mau kesini. hati-hati di jalan.” “ne, gomawo oppa” kata hye ae sambil melambaikan tangannya. aku pun membalasnya dengan lambaian tangan.

setelah hye ae pergi, hyungku datang.

“malam-malam kok di luar? apa tadi di dalam kau ketemu hantu?” “aish, ani, aku hanya nyari angin saja. emangnya gag boleh?” kataku ketus.

“boleh-boleh saja. tapi jangan lama-lama nanti malah masuk angin. ayo masuk.” “ne hyung.” “donghae-ah, tolong ambilkan hyung minum. haus nih.”

“ah hyung, baru pulang date nyuruh saengnya ambil minum.” gerutku. “donghae ‘kan baik, ambilkan ya?” kata hyungku engan tampang sok aegyo.

“aish, ne kuambilkan minum, daripada aku harus melihat aegyomu yang sangat menjijikan.” “apa katamu?!” tanya hyungku setengah kaget.

“ani, aku cuma bilang aki akan ambillkan minum.” “palli! kerongkonganku udah kering nih” “sabar sedikt kenapa?” gerutku lagi.

sampai di dapur aku kembali mengingat kejadian tadi. waktu terasa begitu cepat saat aku melakukannya. “apakah dia juga memikirkannya sepertiku?” gumanku dalam hati.

“donghae-ah, palli!!” teriak hyungku seperti serigala yang lagi kelaparan. “ne hyung!” jawabku. lalu kuhapuskan lamunanku dan segera mengambil air untuk hyungku yang sangat menyebalkan. “kau lama sekali ambil minumnya?” katanya sambil meminum airnya sampai habis.

“mianhae, kau ‘kan tahu sendiri kalau aku takut ke dapur sendirian.” “ne, arraseo, sekarang kau tidur sana, aku mau nelpon my baby princess.”

gubrak!!!! hyungku ini seperti gag ada pekerjaan selain telpon atau date ma yeojachingunya. kulangkahkan kakiku ke kamarku yang nyaman dan siap tuk tidur.”

DONGHAE POV END

“donghae, bangun. kau tidak kuliah?” kata leeteuk sambil memukul pantatnya saengnya. “aku kuliah, hyung. sekarang udah jam berapa?”

“sekarang jam 06.15”

“MWO? jam 06.15?” kata donghae kaget dan segera mandi.

di lantai bawah, eommanya sedari tadi memanggil-manggil namanya. “donghae, cepat makan, nanti kau telat.” “ne, eomma, ini aku udah siap.”

“eomma, hyung dan appa tunggu di ruang makan.” “ne eomma.” kata donghae setngah berlari menuju ruang makan.

@ruang makan

“donghae, kau tak seperti biasanya bangun kesiangan. kemarin malam kau kemana saja?” “ani, kemarin aku gag kemana-mana appa.” “cepat makan, hyung keburu-buru.”kata leeteuk sambil merapikan bajunya. “hyung mau kemana?” “hyungkan udah ulai masuk kerja, jadi harus berangkat pagi-pagi.” “ne, kajja. appa, eomma donghae berangkat iya?” kata dongahae sambil mncium keua tangan orang tuanya.

“ne, hat-hati di jalan. leeteuk, hati-hati kalau menyetir.” pesan appa. “ne, appa.” kata leeteuk sambil menyater sepedanya.

@universitas

pagi itu donghae jalan-jalan di taman mencari hye ae. biasanya hye ae lebih suka menghabiskan waktunya saat kuliah  di taman ini.

sesampai di taman dia tidak menemukannya. tak seperti biasanyadia tidak datang kesini. dengan muka lesu donghae pergi ke ruangannya.

hari ini guru hyun joong berhalangan hadir karna ada keperluan. sedari tadi donghae melihat seisi ruangannya. dia tidak juga menemukannya.

hatinya mulai gelisah, dia takut kalau hye ae tidak mau bertemu dengannya lagi. “hyukie, kau tahu gag he ae kemana?” “kau tak tahu ya? hye ae sekarang ‘kan pindah.” “mwo? pindah? pindah kemana?” sontak donghae kaget mendengar berita itu

dongahe hanya diam dan pasrah apa yang tlah dia alami. hye ae meninggalakan donghae tanpaada pesan. donghae merasa bersalah, sedih dan menyesal.

dia berjalan menuju kloternya dan membukanya.

didalamnya terdapat surat berwarna biru dengan gambar ikan. donghae mtngambil surat itu dan membacanya di taman biasa hye ae tempati.

lalu dia membuka suratnya dan mulai membacanya.

Untuk oppaku
donghae

            mianhae, oppa. aku pergi tanpa berpamitan dengan  oppa. egois memang, tapi aku terpaksa melakukan ini. appaku pindah dinas ke Swiss mengharuskan kami sekeluarga pindah juga. sebenarnya aku ingin membicarakan soal ini tapi aku gugup dan aku takut kalau oppa marah padaku.

            Oppa, jangan pernah lupakan aku. Kau tahu oppa sangat menyukaiku sejak pertama kita bertemu, tapi aku malu mengungkapkannya. Aku hanya hanya mengungkapkannya lewat surat ini.

            Oppa, walaupun aku harus pergi jauh meninggalakan oppa tapi aku akan selalu ada di hati oppa. Saat aku kembali nanti, aku akan mengunjungi oppa. Aku janji. Oppa, saranghaeyo ❤

Your kiss

Han hye ae

Air matanya  mulai membasahi pipinya. Donghae masih belum terima dengan kepergiannya. Ingin rasanya menjerit tapi apa daya dia berada di posisi yang tidak tepat. Dengan tangan yang masih menggenggam surat tersebut dia meninggalkan taman itu dan menyudahi kesedihannya.

3 tahun kemudian

Donghae telah berhasil menjadi sarjana dan di waktu yang bersamaan dia siap meliris lagu pertamanya bersama sahabatnya, eunhyuk.

Hari ini donghae mengenakan kemeja putih dan jas hitam. Dia terlihar tampan dan gagah. Kedua orang tuanya juga berdandan untuk merayakan keberhasilan anaknya menjadi sarjana. Sedangkan hyungnya, sudah melamar kekasihnya, kang sora.  Mereka berangkat menuju universitas super junior.

Sesampai disana, sudah banyak wali murid dan mahasiswa yang yang dating. Di puncak acara semua mahasiswa melempar topi wisudanya foto bersama sebagai kenang-kenangan. Di tengah bersenag-senang merayakan keberhasilannya, donghae melihat sesosok yeoja yang selama ini pergi meninggalkannya.

Donghae menghampirinya tapi dia malah berlari menuju taman universitasnya lalu donghae mengejarnya.

Sampai di taman, donghae melihat dia duduk dimana biasa ia duduk saat kuliah disini. “hye ae, kau kah itu? Aku sudah lama menantimu. Aku sudah kangen denganmu.” Kata donghae meneteskan air mata.

“nado oppa, aku juga kangen oppa. Aku sudah menepati janjiku tiga tahun yang lalu”. Kata hye ae sambil memeluk donghae.

“sekarang kau tidak akan meninggalkan oppa lagi ‘kan?” “ne, oppa. Aku ‘kan selalu di sisi oppa.”

“gomawo……..chagi” kata donghae sambil mengelus rambutnya hye ae lembut. Perlahan wajah mereka mulai mendekat…..mendekat…..dan……bibir mereka saling bersentuhan. Mereka berkissing ria di taman itu.

Tanpa disadari, mereka dilihat oleh hyungnya donghae, leeteuk beserta tunanganya. “chagi, mereka seperti kita, ya?”

“ne, oppa. Aku jadi iri pada mereka.” “apa chagi mau melakukannya disini?” goda leeteuk sambil menaikkan alisnya sebelah.

“mwo? A…aniya, aku gag mau melakukannya disini. Nanti saja kalau udah di apartemen.” “ne chagi. Ayo kita pergi, keburu ketahuan.” Kata leeteuk meninggalkan namdongsaengnya dan pacar ‘baru’nya di taman.

‘chagi, ayo kita ke depan.” Ajak donghae sambil menggandeng tangan hye ae. “ne, oppa. Kajja.” Sejak saat itu donghae dan hye ae resmi pacaran “hooooorrrrreeee!!!!!!!!!!”

‘END’

gimana critanya? gaje bukan? gomawo udah baca fanficQuw. mohon di kritik, saran dll ke author, ya? jeongmal gamsahamnida^^

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.